Buku Murah? Yes! Bajakan? No! Cuma Di Sini

Di usia saya yang sudah memasuki dunia kerja ini, sudah bisa relate banget terhadap kelelahan dan keletihan bekerja 8 jam sehari, 5 hari seminggu. Rasanya akan nggak semangat kalau pekerjaan saya dikritik habis-habisan sama bos, apalagi kalau sesuatu yang sudah saya kerjakan baik-baik, eh diklaim orang sebagai hasil pekerjaan dia. Sebel!

Sebaliknya, saya bakalan senang saat pekerjaan saya diapresiasi, nggak usah deh dipuji, diucapkan “terima kasih” aja sudah senang banget. Di-notice kalau ada sesuatu yang sudah saya kerjakan dan berdampak, itu kepuasan tersendiri yang bisa jadi energi untuk mengerjakan hal-hal selanjutnya dan terus berkarya.

Seperti juga saya yang akan sebel kalau hasil kerja saya nggak dihargai, mungkin seperti itu pula penulis yang karyanya dibajak. Bayangkan, menulis itu kan prosesnya panjang : butuh riset, butuh waktu menulis, butuh waktu mengedit tulisan, butuh finishing, butuh waktu cetak sampai akhirnya jadi buku yang bisa dinikmati.

Eh lho sayangnya, masih ada saja orang yang nggak mau tahu proses ini, dan menyebarkan buku bajakan untuk dibaca khalayak ramai. Saya sendiri pernah mengalami. Suatu hari, saya mendapat forward-an broadcast berupa list novel-novel beberapa penulis terkenal di Indonesia beserta link untuk mengunduh versi file .pdf nya. Teman saya sepertinya belum begitu sadar kalau hal ini termasuk dalam kategori pembajakan.

 

“Loh, kenapa? Kan ini bukan buku bajakan? Ada copyrightnya kok di file .pdf tersebut.”

Duh, tidak segampang itu, Esmeralda.

Saya jadi ingat, pernah membaca komik Miiko edisi 28. Salah satu cerita di buku tersebut adalah tentang Miiko yang kepingin membeli komik tapi punya budget yang terbatas. Nggak sengaja lewat toko buku second, Miiko ternyata menemukan komik yang dia inginkan, tapi dengan harga miring, hanya sepertiga harga komik baru di toko buku.

Miiko senang dan merasa beruntung karena yang tadinya dia nggak bisa beli satu komik, sekarang bisa membeli bahkan sampai 2-3 secondhand komik.

Tapi kemudian Miiko ternyata bertemu dengan pengarang komik yang ia baca di toko buku second tersebut. Miiko minta komiknya diberikan tanda tangan, si pengarang komik berusaha tersenyum, tapi Miiko melihat sepertinya sang pengarang tersebut bersedih dan kecewa.

Miiko baru sadar bahwa tindakannya itu keterlaluan setelah berbincang singkat dengan si pengarang. Miiko akhirnya paham kalau dengan membeli buku bekas, dirinya memang untung, tapi sebetulnya merugikan penulis, karena tidak ada uang hasil penjualan buku second yang diberikan kepada penulis sebagai royalti.

Saya baca kisah komik bekas di komik Miiko itu sudah beberapa tahun lalu saat belum memasuki dunia kerja. Lalu kini setelah merasakan perjuangan bekerja, mengingat kisah itu, saya jadi selalu berusaha menghargai karya orang lain.

Tentang soft file buku yang disebarkan via broadcast WA, saya jadi langsung bisa mengategorikan file-file tersebut termasuk dalam pembajakan.

Tentu sang penulis tidak mendapat apa-apa saat ide yang telah ia tuangkan dalam tulisan kemudian dibaca banyak orang. Padahal seperti saya yang bekerja kemudian digaji akhir bulan, gaji penulis ya dari royalti hasil penjualan buku yang ia tulis. Kita perlu curiga saat membeli atau mengakses sesuatu dengan gratis, sebab barangkali ada penulis yang kita dzhalimi, tidak kita hargai hasil pekerjaannya. Seperti juga saya, mereka bukan cuma akan sebel, tapi juga tidak mendapatkan haknya atas karya yang mereka buat.

“Kak, aku masih sekolah/kuliah, duitku nggak cukup untuk beli buku, tapi aku haus ilmu banget anaknya”

Saya ngerti banget rasanya jadi sobat misqueen yang doyan baca. Pengen beli buku yang di rak ini, pengen buku yang di rak sana, eh tapi kok dompet udah mewanti-wanti untuk bijak menentukan pilihan. Memang rasanya buku-buku yang dijual murah secara online lebih menarik, tapi saya sudah kapok pernah membeli buku yang kertasnya memakai kertas koran dan mudah robek. Boro-boro ada wangi buku setiap pertama kali dibuka. Mengunduh soft file buku bajakan di internet pun batin saya nggak tenang saat membacanya.

Tapi memanglah dalam kesempitan, manusia selalu punya cara untuk mengakali. Ini beberapa cara saya untuk tetap bisa membaca dengan tidak merampas hak penulis yang bukunya saya baca:

 

Iya sih, semua orang rasanya sudah mulai membicarakan novel terbaru dari si penulis ini. Kok rasanya saya sendiri yang belum membaca bukunya. Ah, tapi dompet sedang nggak mengizinkan saya untuk membeli bukunya sekarang.

Tapi, gimana kalau cari online? Lho, ternyata belanja di mizanstore, sering banget berlumuran diskon! Buku-buku yang saya temukan di sana menggiurkan sekali, diskonnya bisa sampai 50%. Syaratnya cuma satu, rajin scroll dan mencari.

Nggak cuma buku terbitan mizan, kita juga bisa menemukan buku-buku terbitan penerbit lainnya (yang juga didiskon) di toko buku online ini. Buku terjamin original dengan wangi khas setiap plastik baru dibuka~

Tidak lantas karena bisa diunduh gratis, kemudian sebuah file menjadi legal untuk dibaca. Ingat-ingat lagi, ada hak penulis yang dirampas setiap kali karyanya dibaca tanpa si penulis mendapatkan penghargaan atas karya tersebut.

Pilihan kedua saya, jika buku fisik terlalu mahal, saya biasa mencari dahulu versi e-book buku tersebut. Nah, asyiknya lagi, mizanstore sudah terintegrasi juga dengan Google Playbook sehingga di websitenya, kita bisa lihat e-book apa saja yang bisa dibeli.

Tentu harga e-book ini lebih terjangkau dibandingkan kita membeli buku fisik. Selain tidak butuh biaya ongkir, dalam hitungan detik buku juga bisa langsung dibaca tanpa menunggu waktu pengiriman seperti buku fisik.

Pernah merasakan malas berbelanja online karena ongkir mahal? Nggak usah bingung, mulai tanggal 26 September lalu, toko buku mizanstore masih mengadakan promo gratis ongkir.

Seperti mengerti betul keengganan konsumen untuk membayar ongkir saat berbelanja secara online. Sudah bukunya didiskon, ditambah pula gratis ongkir, siapa yang tidak tergiur?

Begitulah, saya masih percaya ada cara-cara untuk bisa tetap membaca dengan mengeluarkan ongkos yang tidak banyak, namun secara legal dan tidak merampas hak orang lain. Karena sejatinya, ilmu itu gratis, hanya saja orang-orang yang membagikan ilmunya pada kita juga manusia yang membutuhkan sandang, pangan, papan dan internet sebagai penyambung nafas untuk bisa tetap berbagi kepada pembacanya. 

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *