Para Bajingan yang Menyenangkan vs. Lambe Akrobat (Sebuah Review)

Sudah beberapa waktu lamanya saya menjadikan situs mojok.co sebagai teman sarapan di pagi hari sebelum mulai bekerja. Alasannya sederhana, dengan bahasa yang santai dan jenaka (terkadang juga nyeleneh cerdas), saya bisa tahu sedang ada keributan apa di jagat maya. Dari yang receh-receh sampai yang penting-penting. Walaupun beberapa teman yang kemudian ikut membaca situs tersebut ada yang kurang sreg dan merasa artikel di dalamnya agak absurd, tapi saya suka. Mungkin karena saya sendiri juga absurd. Maklum, golongan darah AB. Katanya kebanyakan ya begitu.

Selain terus melejitkan namanya sebagai salah satu portal sumber berita dan artikel bergaya milenial, Mojok juga menerbitkan buku-buku hasil karya anak bangsa, termasuk buku-buku karangan dua pentolan mojok yang kini namanya besar: Puthut EA dan Agus Mulyadi. Pada suatu masa, saking tertariknya saya dengan tulisan kedua orang ini, saya pernah sekrol sampai bawah tulisan-tulisan mereka di mojok.co. Dan ya, semenarik itu. Saya ketagihan membaca gagasan-gagasannya.

Saya memang belum pernah secara langsung bertemu dengan Mas Puthut dan Mas Agus. Tapi ya, kita selalu bisa merasa lebih mengenal seorang penulis dengan membaca karya-karyanya. Baru-baru ini saya membaca dua buku yang dikarang oleh masing-masing pribadi yang sama-sama pernah menjadi pemimpin redaksi mojok.co tersebut. Saya tamatkan Lambe Turah karya Agus Mulyadi dan Para Bajingan yang Menyenangkan karya Puthut EA hanya dalam waktu kurang dari 24 jam.

Merasa terhibur dan berkali-kali terhibur tergelak, saya kini tergerak pula untuk menulis reviewnya. Dari sudut pandang saya sebagai pembaca yang kadang-kadang malas membaca, paling tidak kedua buku tersebut punya beberapa hal yang menarik, seperti beberapa hal ini misalnya:

1. Sama-sama Berkisah Tentang Kehidupan Nyata Penulis

Dalam Lambe Akrobat, saya seperti bisa melihat dari jauh kehidupan pribadi Agus Mulyadi. Kebanyakan, dalam bukunya Mas Agus bercerita tentang ayahnya yang bekerja sebagai hansip, ayahnya yang banyak geleng kepala menghadapi ibunya, serta dua adiknya dan tingkah-tingkah mereka. Ayahnya dan dirinya yang tak memahami kelakuan perempuan di rumah mereka (Ibu dan adik-adik Agus Mulyadi), adiknya yang sempat menjadi lulusan terbaik dan artinya membuat Agus harus menelan omelan-omelan ayahnya yang menuntutnya berprestasi pula, dan adiknya yang lain yang punya lidah midas dalam hal berdagang.

Sementara itu, Puthut EA lain lagi. Berlatarkan kehidupannya semasa kuliah, ia bercerita banyak tentang teman-temannya, yakni Bagor, Kunthet, Proton, dan seorang temannya lagi yang telah almarhum dan tak disebut nama. Sang penulis yang lulusan Filsafat UGM itu menunjukkan sisi-sisi lain anak kampus ternama tersebut. Yang aktivis, yang suka seenaknya sendiri tapi sekaligus juga punya kepribadian tak terduga. Yang sering judi dan mabuk, yang kemudian malah menjadi salah satu pejabat BUMN.

Cerita kilas balik tentang pengalaman yang dirasakan sendiri memang selalu menarik. Dua orang ini sama-sama apa adanya menceritakan. Bedanya, Lambe Akrobat membawa pembaca untuk menjelajahi kehidupan dengan keluarga yang memetik gelak tawa, sementara Para Bajingan yang Menyenangkan lebih tentang kekocakan, (banyak) kenakalan, peristiwa absurd dan hal hal gendheng yang dilakukan di usia-usia mahasiswa.

     2. Sama-sama Memantik Gairah Saya Belajar Bahasa Jawa

Label “Novel Dewasa” sudah begitu jelas terpampang di plastik buku “Para Bajingan yang Menyenangkan” ketika paket buku tersebut datang ke rumah saya. Walau tidak ada adegan ranjang di buku tersebut, tetapi memang bahasa yang digunakan akan amat mengkhawatirkan jika dibaca anak-anak di bawah umur. Namun walau begitu, saya suka cara Puthut EA bertutur dengan jujur dan apa adanya, menggunakan bahasa yang mungkin memang seperti itulah ketika kejadiannya berlangsung.

Buat saya yang memang tertarik mempelajari bahasa Jawa (karena Ibu yang keturunan Jawa, tapi kemudian menikah dengan Ayah yang Sunda, lalu bersepakat tidak menggunakan bahasa daerah ketika berkomunikasi dengan anak-anaknya, jadilah kami anak-anak yang tak tahu berbahasa Jawa maupun Sunda), dari kedua buku ini jelas saya banyak belajar. Bagaimana tidak, bahkan ada beberapa lembar kamus untuk contekan jika tiba-tiba di tengah jalan saya tersandung kata-kata yang tidak saya mengerti. Sangat membantu wong-wong Jawa yang ra tahu ngomong boso Jowo seperti saya.

Walau memang harus diakui, bahasa anak muda di Para Bajingan yang Menyenangkan agak kurang sesuai dengan norma-norma kesopanan. Lha wong memang ceritanya tentang anak muda yang keranjingan berjudi. Sana-sini umpatan, sedikit-sedikit panggilan yang seperti menghina, tapi sebetulnya amat menunjukkan kedekatan penulis dengan tokoh-tokoh teman sekampusnya itu. Saya juga sempat tersendat di bagian-bagian akhir cerita para bajingan, sebab semakin ke belakang, semakin banyak percakapan yang full diceritakan dalam bahasa Jawa (okay, ini berarti saya juga yang kurang banyak belajar dan belum bisa memahami percakapan sederhana bahasa Jawa).

Lambe akrobat lain lagi. Saya lebih lancar membacanya. Tak banyak istilah-istilah berbahasa Jawa, walau saya masih juga berkali-kali mengintip contekan di belakang buku. Contekan kamus singkat bahasa Jawa di Lambe Akrobat juga lebih sedikit dibandingkan dengan Para Bajingan yang menyenangkan.

Begitulah persamaannya. Lalu saya juga ingin membahas perbedaannya.

Walau jika diperhatikan, saya juga sudah menulis perbedaan-perbedaannya setelah menyatakan persamaannya. Tapi ada yang ingin saya tambahkan. Sebab kamu sudah membaca sampai sini dan mungkin berharap lebih. Berharap membaca lebih maksudnya, kalau berharap kepadaku mungkin jangan dulu. Eh mungkin juga bukan kamu yang berharap. Aku yang berharap. Iya. 

Buat saya sendiri, ada beberapa perbedaan di buku Lambe Akrobat dan Para Bajingan yang Menyenangkan, seperti misalnya dari segi:

1. Penyajian Cerita

Lambe Akrobat ditulis dalam dua babak, yakni babak I (Keluarga Hansip) dan babak II ( Marcopolo dan Geng Koplo). Dalam babak I yang dibagi-bagi menjadi 17 cerita pendek, pembaca akan dibawa mengalir dengan kisah-kisah yang selalu bisa memunculkan gelak tawa, atau setidaknya senyum. Dan kadang senyum getir. Membaca buku ini mirip-mirip juga dengan membaca sebuah blog. Beberapa bagian di-highlight dengan jenis tulisan (font) dan ukuran tulisan (font size) yang berbeda.

Lain lagi Para Bajingan yang Menyenangkan. Puthut EA tidak secara sistematis membagi-bagi buku tersebut menjadi beberapa bab, begitu saja dibiarkan mengalir dari cerita yang satu ke cerita lainnya, dengan batas beberapa spasi dan huruf tebal di awal paragraf. Terkesan monoton, namun dengan cerita yang tidak biasa (tak banyak buku yang bercerita detail tentang penjudi, jenis-jenis judi, dan teori-teorinya) saya hampir tidak bisa melepaskan buku tersebut sebelum benar-benar selesai dibaca.

2. Gambar Pendukung Cerita

Karena dibuat dalam bentuk cerita pendek (yang saya curiga diambil dari cerita-cerita di blog Agus Mulyadi), Lambe Akrobat dilengkapi dengan gambar-gambar pendukung cerita yang membuatnya enak dibaca. Sementara itu, Para Bajingan yang Menyenangkan yang ceritanya terus bersambung, tidak memuat satu halaman pun gambar pendukung cerita, tapi tetap menarik mengikuti kisah persahabatan para penjudi dengan segala macam filosofinya.

Dengan segala kesamaan dan kebedaan kedua buku tersebut, keduanya tetap sebuah bacaan yang menarik. Dari para bajingan, saya bisa belajar kalau seberapapun orang yang dari luar terlihat bajingan, tetap saja memiliki sisi-sisi baik ketika berinteraksi dengan manusia-manusia lainnya. Seperti cerita menyelipkan duit untuk ongkos pulang kepada musuh sehabis bertengkar. Dari keluarga hansip, saya turut merasakan kebahagiaan dalam kesederhanaan yang diciptakan sendiri, tak tergantung orang lain.

Keduanya ringan dibaca, menghibur, membuka tawa, melahirkan getir. Cocok sekali dengan tagline pembatas bukunya : Buku di tangan kiri, kopi di tangan kanan, jodoh di tangan Tuhan <3

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *