Review Buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor (Buku 1)- J.S. Khairen

Nama Prof. Rhenald Khasali memang sudah tidak asing lagi sebagai salah seorang akademisi dengan terobosan-terobosan pemikiran yang banyak menjadi panutan baik bagi mahasiswa maupun khalayak ramai. Beberapa kali ia juga telah menerbitkan buku-buku tentang bisnis dan pengembangan diri. Awalnya, ketika melihat sampul buku ini, saya pikir buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor ini merupakan salah satu buku hasil karyanya, sebab memang di bagian atas sampulnya tertulis nama sang profesor, letaknya di atas tengah, persis seperti layaknya penerbit meletakkan nama pengarang dalam suatu buku. Namun, ternyata buku ini merupakan jerih payah dari J.S Khairen, salah seorang peserta didik Rhenald Kasali di Rumah Perubahan, komunitas yang lagi-lagi digagas oleh sang profesor.

Nama tersebut memang sengaja diletakkan di bagian atas sampul buku, sebab keseluruhan isi buku ini bisa muncul dan terbit karena ide dari sang profesor yang kemudian betul-betul diwujudkan menjadi kenyataan. Di bagian depan buku sebelum cerita dimulai, terdapat pula kata sambutan dari sosok yang juga masih aktif mengajar sebagai guru besar di Universitas Indonesia ini. Dalam buku ini, Prof. Rhenald Kasali sebagai seorang dosen pengampu mata perkuliahan Pemasaran Internasional (Pemintal) di Fakultas Ekonomi UI memberikan tugas pada mahasiswa di kelasnya untuk melihat dunia, pergi ke negara lain sendiri saja tanpa keluarga atau teman.

Oh ya, yang saya ulas kali ini adalah buku bagian pertama, berisikan 16 kisah perjalanan para mahasiswa yang mengambil kelas Pemintal tersebut. Buku in terbit berpasangan, sepertinya di buku kedua ada 14 cerita lanjutannya, sehingga jadilah buku ini berjudul 30 Paspor di Kelas Sang Profesor.

Baca 30 Paspor di Kelas Sang Profesor Secara Gratisan Tapi Legal, Mau?

Saya bisa membaca buku ini tanpa merogoh kocek sebab difasilitasi oleh perpustakaan online berbasis aplikasi, iJakarta. Zaman sekarang, malas baca karena mahal? Sudah nggak zaman deh, soalnya kita sudah bisa dapat akses mudah untuk bacaan yang bagus. Contohnya ya di iJakarta ini, perpustakaan beserta buku-buku di dalamnya sudah bisa kita akses semudah membuka media sosial di ponsel cerdas pribadi.

Kemudian tinggal cari buku yang pengen kita baca, dan pinjam deh. E-book kemudian akan terunduh dan siap dibaca selama tiga hari. Nah, karena sekarang ini peminat iJakarta semakin banyak, maka jika yang mau kita pinjam adalah buku yang populer seperti buku-buku Tere Liye atau Ika Natassa, biasanya kita akan kebagian jatah mengantri terlebih dahulu, menunggu pembaca lain selesai masa peminjamannya, baru kemudian ketika buku sudah tersedia, kita bisa pinjam. Sok atuh unduh dulu aplikasinya kalau penasaran, cuma-cuma kok tanpa dipungut biaya dan pajak, lebih murah dari jadian sama kekasih idaman (yang kadang ditagihin pajak jadian), paling modal kuota sama memori ponsel aja.

Self-Driving dalam Perjalanan Seorang Diri di Luar Negeri

Lanjut ulasan bukunya, ya. Buku ini bagus dibaca untuk orang yang suka bepergian. Apalagi yang punya jiwa petualang dan keberanian untuk menjajaki negeri orang seorang diri, berbaur dengan lokal dan mendapatkan pengalaman-pengalaman mendebarkan. Pak Rhenald Khasali memang betul-betul ingin mahasiswanya menjadi pribadi yang punya pemikiran luas, salah satunya adalah dengan mengunjungi negara lain yang tidak berbahasa Melayu. Artinya, jangan harap di buku ini kita bisa menemukan kisah tentang perjalanan ke negeri Malaysia, Singapura, atau Brunei Darussalam.

Di bagian kata pengantarnya, Pak Rhenald Khasali menyebutkan sebuah kutipan yang berasal dari Colombus, nama seorang pelaut yang namanya sampai kini banyak dikenal sebagai penemu benua Amerika. Begini kutipannya :

“Kalau saya tak pernah mau kesasar, kalian tak akan pernah menemukan jalan baru.”

Cerita Colombus menemukan benua Amerika ini memang sebetulnya ia tersasar. Konon ia ingin menuju India dengan disponsori ratu Spanyol yang ingin memperluas kekuasaannya di dunia perdagangan, namun karena melewati jalur lain, ia malah sampai di Amerika.

Mungkin juga terinspirasi dari kisah ini, kemudian sang profesor setiap tahunnya selalu menantang para mahasiswa di kelasnya untuk bepergian seorang diri di negara asing. Karena bepergian sendiri, setiap orang dipaksa menjadi “driver“. Ibarat naik bus, setiap orang harus bisa mengambil keputusan cepat dalam mencari jalan, mesti selalu awas dalam perjalanan, harus punya kepercayaan diri dengan jalan yang dipilih, disiplin dengan waktu, kreatif menyelesaikan masalah, dan nggak bisa jadi “passenger” yang ongkang-ongkang kaki sambil nyanyi only hate the road when you’re missing home, only know you love her when you let her go~

Penggalan-Penggalan Kisah Perjalanan di Negeri Asing

Di buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor ini, pembaca disuguhkan berbagai pengalaman menarik para mahasiswa yang sendirian menantang dunia di negara asing. Tak selalu ketika melakukan perjalanan ke luar negeri semuanya akan berjalan baik-baik saja, beberapa bahkan mengasah kemampuan membuat keputusan seperti kisah Ragil yang pergi ke Islandia dan tersesat tengah malam di tempat sepi karena salah naik bus, dan harus berpikir cepat agar bisa bertahan di tengah turunnya salju dengan pakaian seadanya, atau seperti Religia yang ditipu pengendara tricycle di Filipina dan dibawa berputar-putar sehingga jarak menuju hostel yang seharusnya dekat menjadi jauh, atau seperti Dewi Agustin yang harus rela diinterogasi panjang lebar karena salah bertanya dan dikira imigran gelap ketika transit pesawat di Singapura, hingga kisah Delinda yang digoda bapak-bapak ketika berjalan-jalan di Busan, Korea. Serius deh, digodain bapak-bapak sampai dipegang tangan itu dari ceritanya aja udah horor abis.

Tapi tentu saja, kesulitan-kesulitan tersebut pada akhirnya menjadi cerita yang tentu tidak terlupakan bagi para mahasiswa tangguh tersebut. Tentunya, semua kesulitan tersebut juga diimbangi dengan kisah-kisah manis selama perjalanan, seperti kisah Farah yang memberanikan diri menyapa orang Indonesia yang dilihatnya ketika menaiki S-Bahn di Jerman, yang ternyata punya koneksi dengan pemilik hostel tempatnya akan menginap, atau kisah Dewi Agustin yang bersilangan takdir dengan Zho, penduduk asli Myanmar yang memperkenalkannya dengan tempat terbaik di Birma serta menjamunya dengan tulus meskipun keluarga Zho terbilang kurang berkecukupan, atau kisah Femi yang pergi ke Nepal tentang para penduduknya yang begitu jujur, ketika ada sepatu yang tertinggal dan masih disimpankan hingga pemiliknya datang kembali untuk mencari.

Beberapa cerita juga kocak seperti kisah Ni Luh Eka yang tidak menemukan eskalator naik di pintu keluar nomor 4 stasiun bawah tanah di Taiwan. Sempat menoleh ke pintu nomor 3 yang eskalator naiknya berfungsi dengan baik, namun ia memutuskan tetap keluar dari pintu 4 yang sesuai dengan petunjuk jalan yang didapatnya melalui aplikasi, khawatir tiap pintu mengarah ke tempat yang berbeda dan tidak saling berhubung. Setelah ratusan tangga dinaikinya dengan koper berat, sampai di atas, ia baru sadari bahwa pintu 4 memang dikhususkan untuk masuk ke stasiun, dan pintu 3 lah yang ternyata dirancang untuk keluar stasiun. Di atas stasiun, letaknya sama sekali tidak berjauhan di pusat kota tempat ia akan menjelajah.

Rasanya Membaca Buku Ini

Walaupun sebetulnya buku ini cukup tebal, sekitar 328 halaman, namun karena saya membaca via aplikasi di ponsel cerdas, maka berat buku bukan menjadi masalah. Hanya saja, saya merasa beberapa cerita kurang menjabarkan secara detail mengenai lokasi-lokasi yang dikunjungi ketika para mahasiswa tersebut bepergian seorang diri. Memang mungkin fokus buku ini bukan seperti buku traveling pada umumnya, melainkan untuk menanamkan sifat-sifat mandiri, menjabarkan bagaimana seseorang harus bisa mengambil keputusan dengan cepat, berinisiatif dan kreatif ketika bepergian. Seperti juga nantinya ketika menjalani hidup selepas masa berkuliah.

Namun, menurut saya sendiri ketika menceritakan perjalanan, perlu juga sedikit detail dan fokus pada penggambaran tempat, bukan hanya menyebutkan dari tempat ini, kemudian ke tempat itu, dan seterusnya, karena saya sendiri kalau cuma disebutkan seperti itu pasti nggak kebayang dan lupa ketika menutup buku. Tapi ada juga beberapa kisah yang menjelaskan secara detail suasana suatu tempat, seperti Imagine Peace Tower di Islandia yang dijelaskan berbentuk seperti lilin raksasa, tentu setelah itu saya langsung mencari seperti apa bentuknya menara tersebut. Mungkin juga memang karena keterbatasan halaman, sehingga tidak semua tempat dijabarkan dengan detail, dan lebih berfokus pada pencarian diri dan makna pertemuan dengan orang lain dalam perjalanan.

Kalau disuruh kasih rating, mungkin saya akan kasih 3/5 untuk buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor ini. Saya paling suka kisah di Islandia, yang memang dijabarkan dengan proporsi seimbang antara penggambaran suasana alam, deskripsi tempat-tempat wisata, dan juga interaksi dengan orang sekitar.

Secara keseluruhan, banyak pelajaran yang bisa diambil, hanya saja saya seperti diburu-buru mengikuti tiap perjalanan. Kalau ditanya apakah saya ingin membaca buku keduanya, saya akan jawab ya. Sebab masih kepo dengan kisah dari negara-negara tidak biasa lainnya yang dikunjungi oleh para mahasiswa sang profesor.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *