Review Buku Switch – Kazuo Murakami

Beberapa waktu lalu, saya jalan-jalan ke Big Bad Wolf 2018 yang tahun ini masih konsisten diadakan di ICE BSD. Agak kecewa sebenarnya, sebab tahun ke tahun stok buku yang disediakan semakin banyak buku anak-anaknya. Dua tahun lalu, ketika saya datang ke BBW 2016, buku fiksi dan non-fiksi yang tersedia masih terbilang cukup banyak, sekitar 60%. Tapi ketika datang tahun ini, entah kenapa porsi 60% itu ditempati untuk buku anak-anak. Akhirnya saya beralih membelanjakan kocek untuk membeli buku-buku Mizan. Salah satunya adalah buku SWITCH karya Kazuo Murakami. Pengarangnya ini merupakan salah satu peneliti di Jepang yang namanya sudah terkenal sekali, apalagi sebelumnya dia juga pernah menuliskan pemahamannya mengenai DNA, bidang yang memang benar-benar digelutinya sepanjang hidup.

Ketika saya cari di Goodreads, buku SWITCH Kazuo Murakami ini belum ada versi bahasa Inggrisnya! Artinya, Mizan memang menerjemahkan buku ini langsung dari bahasa Jepang dengan judul yang sama. Buku ini diterbitkan pada Februari 2016, dan memang isi di dalamnya yang kaya akan spiritualitas bagus sekali menurut saya untuk dibaca siapapun yang sedang merasa hidupnya penuh derita atau kesedihan.

Singkatnya, dalam buku SWITCH, berceritalah sang pengarang mengenai teori yang menurutnya perlu diketahui banyak orang, yakni gen manusia bukan hanya sebatas pembawa informasi mengenai hereditas dari orang tua. Kalau selama ini banyak orang meyakini bahwa gen adalah penyebab beberapa penyakit turunan, sifat turunan, dan lainnya, Kazuo Murakami justru berpendapat kemampuan gen lebih dari itu semua. Kita sebagai manusia bisa menekan tombol “switch” gen untuk hidup yang lebih positif. Istilahnya, di dalam tiap gen manusia terdapat saklar yang bisa ditekan, bergantung dengan keadaan lingkungan yang sedang dialami manusia.

Yang saya suka dari buku ini, sebetulnya sudah jelas sekali bahwa pengarang merupakan akademisi, ilmuwan yang segala sesuatunya hitam dan putih. Seringkali manusia membenturkan pengetahuan alam dan spiritualitas (makanya banyak juga ilmuan yang justru jadi tidak percaya Tuhan), namun justru di buku ini, pengarang justru seperti membuat jembatan di antara kedua area tersebut, spiritualitas dan ilmu pengetahuan. Seperti misalnya, di halaman 13, tertulis bahwa :

“Secara garis besar, kegunaan gen ada dua. (1) Untuk menyampaikan informasi genetik pada keturunan atau disebut juga kemampuan menggandakan diri. (2) Untuk menjaga keberlangsungan hidup dengan memproduksi protein.”

Tapi, di halaman yang sama, pengarang juga menuliskan bahwa :

“Gen memiliki kemampuan yang sangat presisi untuk mengubah kinerjanya antara ON (berekspresi) atau OFF (istirahat) kapan pun dibutuhkan.”

Pernyataan kedua ini bisa dibilang perlu banyak penelitian untuk membuatnya terbilang sahih di dunia penelitian. Dari sini saja, kita bisa lihat bahwa Kazuo Murakami memang terbukti memiliki landasan yang kokoh tentang teori ilmiah mengenai gen. Apalagi sebelumnya, ia juga sempat mengarang sebuah buku yang berjudul dengan “The Divine Message of The DNA” yang waktu terbitnya di Indonesia kira-kira sepuluh tahun sebelum terbitnya buku SWITCH ini. Karya lainnya mengenai gen dan DNA juga sudah banyak yang menyebar luas di tangan publik.

Keadaan Lingkungan Hati Dapat Mengubah Perilaku Gen

Walaupun gen kita sebetulnya merupakan hasil duplikat dari orang tua, namun tidak selamanya perilaku gen akan sama. Beberapa keadaan bisa mengubah perilaku gen makhluk hidup. Sebetulnya ada beberapa faktor yang bisa mengubah perilaku gen ini, seperti misalnya :

  1. Faktor fisik : tekanan, panas, latihan, medan magnet, cahaya, tegangan, frekuensi.
  2. Faktor makanan yang dikonsumsi, gaya hidup. 
  3. Faktor psikologis : rasa haru, cinta, tertekan, khawatir, marah, galau, dsb.

Nah, menurutnya, hidup kita bisa berubah dengan menekan saklar hati. Kita memang nggak bisa mengubah DNA sendiri untuk jadi manusia yang lebih cerah, bahagia, hidupnya berkah, tapi kita bisa mengubah keadaan hati kita. Faktor psikologis memegang peranan yang cukup penting disini.

Tapi bukan berarti keadaan psikologis kita harus selalu dipaksa untuk berbahagia. Pengarang disini mencontohkan kasus setelah gempa Jepang pada 2011 yang begitu parah hingga menyebabkan sekitar 29 ribu orang meninggal dan reaktor nuklir milik negara matahari terbit tersebut rusak. Saat itu, sudah tentu warga Jepang didera beban psikologis yang cukup berat. Namun, justru keadaan yang serba sulit saat itulah yang merupakan pendorong kuat untuk menekan saklar gen.

Gempa besar tersebutlah kemudian sebagai titik balik untuk mengingatkan kembali sifat-sifat yang mungkin telah dilupakan masyarakat. Bahkan ada nelayan yang kemudian berkata bahwa

“Tak mungkinlah saya bisa menaruh dendam terhadap laut yang sudah memberi kami berkah sampai saat ini. Kita perlu mulai dari nol saja.”

“Ini adalah pemberian dari langit, setidaknya saya tidak perlu dendam kepada orang lain.” (halaman 145)

Dari cerita ini, kemudian sang pengarang melanjutkan kisahnya tentang hal-hal yang membuatnya bangga menjadi orang Jepang. Menariknya lagi, ia juga membahas sedikit hubungan Jepang dan bangsa lain hingga saat ini. Terbukti bahwa pengarang adalah seorang pengamat ulung yang kehidupan spiritualitasnya patut ditiru. Walaupun sebetulnya spiritualitas berbeda dengan religiositas. Saya nggak begitu paham apa agama Kazuo Murakami, tapi ia adalah seorang spiritualis. Mungkin tidak melaksanakan berbagai ritual keagamaan seperti shalat layaknya Muslim atau misa layaknya Kristen, tapi penghormatannya terhadap alam membuatnya yakin bahwa ada sesuatu yang besar, yang mengatur bagian terkecil dari tubuh makhluk hidup, memrogram itu semua dari ketiadaan.

Saya mau kasih bintang 4 dari 5 untuk buku ini.

Kemudian, ada beberapa hal menarik yang rasanya sayang jika tidak dicatatkan di review ini. Berikut saya jabarkan dalam poin-poin di bawah :

  • Di balik penderitaan seseorang yang mengalami kelianan sel darah merah yang berbentuk sabit (sel sabit), terdapat gen yang begitu kuat melawan penyakit malaria.
  • Ketika ada relawan yang membantu para korban bencana alam, relawan selalu menjawab pernyataan terima kasih dengan kata “otogai-sama“, yang artinya “Sudah pasti kita sama-sama saling membantu”, karena tahu bahwa jika dirinya berada di posisi korban, ia pasti melakukan hal yang sama pula.
  • Okage-sama” artinya ungkapan yang menunjukkan adanya andil orang lain atau lingkungan di balik kesuksesan diri sendiri
  • Di balik “itadakimasu” (ucapan yang diucapkan keras sebelum mengonsumsi makanan), ada filosofi bahwa selain rasa terima kasih pada alam, ada juga rasa sungkan ketika suatu makhluk hidup menerima kehidupan dari makhluk hidup lain.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *